Sebagai pameran buku islami paling bergengsi dan ditunggu-tunggu oleh masyarakat indonesia; jakarta khususnya dan luar jakarta umumnya, IBF (Islamic book Fair) Jakarta menampilkan peran yang signifikan bagi perkembangan intelektualitas masyarakat Indonesia.
kali ini IBF mengambil tema “ Menuju Umat berkarakter Qurani”. Tema ini merupakan cerminan yang sangat ideal sebagai visi IBF untuk mewujudkan masyarakat yang berakhlaq Qurani, serta pemahaman dan pengamalan dari isi wahyu tersebut.
Seperti sebelum-sebelumnya, IBF Jakarta yang bertempat di Istora Senayan merupakan tempat yang sangat strategis untuk sebuah pameran buku. selain tempatnya luas, adem karena dilingkupi oleh lapangan-lapangan olah raga dan taman-taman yang hijau menjadikan ia terlindungi dari hiruk-pikuk ibukota. Serta letaknya di pusat kota memudahkan akses untuk siapa saja yang ingin bertamasya kesana.
Ada nuansa berbeda di IBF Jakarta tahun ini dibandingkan dengan 2 tahun yang lalu (kebetulan 2 tahun yang silam saya juga ikut meramaikannya). Saya melihat IBF kali ini lebih bernafas dan lebih hidup. Lihat saja, walaupun hari ini bukanlah hari libur, tapi para pengunjung begitu berjubel menyesaki semua stand-stand yang ada, mulai dari anak-anak-anak sekolahan, mahasiswa, para guru, sampai pekerja kantoran. Dan keramaian itu terus berlanjut hingga jam sepuluh malam.
Selain pameran buku, IBF juga dimeriahkan dengan serangkain acara-acara menarik, seperti bedah buku, bincang-bincang bersama para tokoh, dan berbagai macam jenis perlombaan. sebut saja di antara Penulis dan Tokoh yang tampil; Asma Nadia, Faudhil Adhim, Salim A. Fillah, Habiburrahman, Hidayat Nur Wahid, Syafii Maarif, Anis Mata, Said Aqil Munawir, Adnin Armas, Adian Husaini, Hamid Fahmi Zarkasyi, Hasyim Muzadi, dll.
IBF juga diramaikan oleh anak-anak dari seluruh yayasan dan pondok pesantren di jakarta, bahkan dari luar jakarta. Dan itu adalah salah satu program dari pelaksana IBF sendiri, yaitu upaya pengenalan anak-anak indonesia dengan buku, disertai juga berbagai macam lomba yang membuat mereka lebih antusias dengan dunia pendidikan dan membaca. Selain itu panitia juga menyeting acara khusus bagi mereka, dimentori oleh dai-dai yang berkompeten.
Di antara nuansa positif lain di IBF kali ini berjamurnya buku-buku referensi bahasa arab yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia, mulai dari buku-buku yang ringan bersifat materi motivasi dan ibadah ibadah praktis, sampai materi sejarah, bahkan pemikiran. Dan yang membuat saya lebih kaget lagi, buku-buku yang saya sendiri belum habis membacanya di kairo, bahkan belum membacanya sama sekali yang jumlahnya berjilid-jilid sudah diterjemahkan. Ini adalah nilai plus terbaru bagi penerbitan indonesia, dan suatu pertanda bahwa masyarakat indoneisa sudah mulai haus dengan referensi-referensi ashil, karangan para pakar ulama.
Ditemani oleh Direktur penerbit al-Kausar Bapak Tohir, dan Dua orang tim kreatif Pustaka al-Kausar, Bapak Artawijaya ( penulis buku-buku laris tentang zionis dan liberal) dan bapak Hafis (editor al-kausar, serta salah seorang penulis pemenang IBF tahun ini), memberikan saya banyak masukan tentang perkembangan penerbitan dan dunia buku di indonesia. Di antara pesan mereka yang sangat membekas bagi saya dan menyeret imajinasi saya begitu jauh adalah “ menulis itu mudah, melahirkan karya itu mudah, menerbitkan buku juga mudah! Yang susah adalah bagaimana melahirkan karya yang berkualitas, bernilai ibadah dan dakwah”.





Post a Comment